Belajar Menerjemah dengan Kelaziman Bukan dengan Kaidah


Proses induksi dan deduksi yang saling terjalin dalam teori linguistik penerjemahan dapat kita kaji dengan mempelajari lebih seksama dua paragraf yang diambil dari sebuah tinjauan linguistik dalam bidang ini secara populer, Discourse and the Translator (1990) karya Basil Hatim dan Ian Mason. Sebagai contoh, mereka mengkritisi pendekatan linguistik J.C. Catford terhadap penerjemahan, yang kelihatannya lebih banyak berhubungan dengan keinginan untuk menyusun rumusan abstrak daripada pendekatan linguistik yang dilakukan dengan pengalaman aktual penerjemah dalam menerjemahkan:

Namun, pembahasan ini (menurut Catford) lebih banyak membicarakan perbedaan struktural di antara sistem bahasa daripada tentang individu dan komunikasi lintas hambatan budaya, serta mengeluarkan kalimat dari konteksnya alih-alih teks yang nyata. Dengan demikian, teori penerjemahan telah menjadi cabang ilmu linguistik kontrastif, dan masalah pener jemahan menjadi persoalan persamaan-perbedaan di antara berbagai bahasa berdasarkan kategori-kategori formal tertentu. Menurut Catford (1965: 32):

Penghubung formal (formal correspondent) adalah kategori dalam BSA (bahasa sasaran) yang boleh dikatakan menempati posisi yang, sedekat-dekatnya, "sama" dalam sistem BSA sebagaimana kategori tertentu dalam BSU (ba hasa sumber) menempati posisi di dalam BSU.

Dengan demikian, asumsi bahwa "penghubung formal" di definisikan sebagai relevansi apapun pada studi penerjemahan, dengan sendirinya mendorong timbulnya pengkajian "probabilitas kesepadanan" - sebuah upaya untuk melakukan perhitungan statistik mengenai derajat probabilitas bahwa suatu kategori BSU, dalam teks apa pun, akan diterjemahkan dengan suatu kategori BSA yang sepadan. Dengan demikian, probabilitas bahwa dans dalam bahasa Prancis akan diterjemahkan menjadi in dalam bahasa Inggris dapat dihitung sebesar 73 persen untuk pasangan teks tertentu. Selanjutnya, analisis statistik pada berbagai contoh teks diharapkan meng hasilkan rumusan "kaidah penerjemahan". Meskipun demikian, jelas sekali perhitungan semacam itu hanya dapat menerangkan sistem bahasa, bukan faktor-faktor komunikatif seputar penciptaan dan penerimaan teks. Gagasan tentang probabilitas kesepadanan di antara kategori-kategori tersebut sebagai proposisi, kemungkinan relevan untuk beberapa kesalahan kecil pada output terjemahan mesin yang masih kasar. Tetapi hal ini sama sekali tidak berarti bagi penerjemah manusia. Bagi penerjemah manusia, tidak menjadi masalah bila enquoi consiste la logique mathematique diterjemahkan men jadi what mathematical logic consists of.

Pada tulisan ini yang diambil dari terjemahan (Becoming a Trans lator), Hatim dan Mason menyatakan bahwa pendekatan Catford merupakan serangkaian deduksi yang sebagian besar tak ada gunanya untuk persoalan praktis menerjemahkan kata dan frasa spesifik. Buku mereka dimaksudkan untuk mendekati rumusan induksi spesifik penerjemah secara linguistik, yang terbukti akan lebih bermanfaat bagi penerjemah, sekalipun jika dinyatakan kembali dalam bentuk "deduktif" atau "kaidah".

Kritik terhadap Catford ini merupakan salah satu ungkapan keluhan yang kerap dilontarkan para praktisi tentang teori: teori tidak punya nilai praktis; teori tidak membantu saya menerjemahkan dengan lebih baik; teori hanya permainan intelektual abstrak belaka; seharusnya saya tidak usah membuang-buang waktu dengan embel-embel khayalan seperti itu. Penerjemah atau penerjemah pemula yang senang bermain-main dengan konsep abstrak tanpa memperhatikan aplikasi praktisnya, mungkin dapat bersenang-senang dengan teori-teori linguistik seperti ini; tetapi kesenangan ini hanya berlangsung sesaat dan tidak setiap orang bisa menikmatinya.

Persoalannya adalah apa yang cenderung dilakukan penerjemah atau penerjemah pemula dengan teori-teori itu secara praktis? Kebanyakan mereka akan berkata, "abaikan saja"; tetapi para mahasiswa seringkali tidak berada pada posisi yang diperkenankan untuk mengabaikan apa yang diwajibkan dosen untuk dibaca dan dipelajari. Di samping itu, seandainya perangkat statis seperti model analitis spesifik Catford bisa dilenyapkan, bacaan skeptis seperti buku Catford sekalipun akan menghasilkan suatu pengertian yang melekat, bahwa ada sesuatu yang menarik dan kemungkinan besar bermanfaat. Apakah ada pendekatan lain untuk buku seperti karangan Catford ini yang memungkinkan pembaca mendapatkan lebih banyak nilai praktis darinya?

Jawaban dari persoalan ini bisa dimulai dari pernya taan umum Hatim dan Mason bahwa pola-pola umum Catford perihal kesepadanan "sama sekali tidak ada arti nya bagi penerjemah manusia. Bagi penerjemah manusia, tidak menjadi masalah bila en quoi consiste la logique mathematique diterjemahkan menjadi what mathematical logic consists of." Benarkah begitu? Bagi penerjemah Prancis-Inggris yang berpengalaman, memang begitulah kea daannya. Bila dihadapkan pada kalimat en quoi consiste la logique mathematique, penerjemah ini dengan mudah dan tanpa disadarinya, mengingat kembali pola pemindahan yang sudah sering digunakan dan cepat mengetikkan what ma thematical logic consists of. Namun, bagi penerjemah pemula, pola yang khusus itu bisa menjadi masalah, terutama dalam memutuskan perlukah menggunakan pre posisi of. Terjemahan yang lebih harfiah (Catford akan menyebutnya "rank-bound"), "in what mathematical logic consists," akan dianggap sebagai "bahasa Inggris yang lebih baik" oleh sebagian penganut gramatikal murni, yang bersikeras bahwa penerjemah tidak seharusnya mengakhiri sebuah klausa dengan preposisi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Cara Menemukan Penerjemah Bahasa yang Tepat?

Penerjemahan Buku Non-Fiksi Populer

Butuh Legalisasi Ijazah untuk Kuliah Luar Negeri? Percayakan pada Kami!